Catatan dalam bentuk power point : praktek-db.ppt
Berpikir untuk maju, maju untuk berpikir
Catatan dalam bentuk power point : praktek-db.ppt
Hari ini saya baru saja chatting melalui YM dengan seorang teman di Padang. Dia mengeluh karena jaringan di kampusnya lamban benar, dan menurut dia hal itu terjadi karena ada kesalahan pada desain atau kekeliruan dalam pemilihan masalah teknis tertentu sehingga kualitas jaringan tidak mencapai posisi optimalnya.
Saya jadi coba berpikir lagi tentang adakah faktor-faktor eksak yang dapat kita gunakan untuk mengukur kinerja (kualitas) suatu jaringan (dalam hal ini LAN/intranet). Secara pengamatan awam (end user) saja hal ini memang dapat dirasakan langsung, misal saat ada kebutuhan akses informasi tertentu yang tersendat maka serta merta seorang user awam akan menyebut ada masalah dengan jaringan. Tapi apakah ukurannya se-subjektif itu ?
Saya mencoba mencorat-coret paramater sederhana seperti berikut :
Ukur dulu Stabilitas - nya
Bisa saja sebuah LAN dirasakan lambat karena “streaming” (aliran) koneksinya tidak stabil. Device LAN tertentu seperti hub/switch dan untuk era sekarang termasuk access point dapat menyebabkan jaringan terputus-putus. Ujilah dengan perintah ping ke host tertentu. Amati apakah ada saat-saat tertentu koneksinya terputus.
Ukur juga dong waktu transfer nya
Ada dua hal dalam ini yang bisa jadi patokan masalah waktu transfer ini, yaitu : delay dan bandwidth. Dua hal ini yg sebenarnya sangat berkaitan. Yang pertama (delay atau kadang berkaitan dengan istilah latency) lebih ditentukan oleh perangkat physical sedangkan yang kedua (bandwidth) lebih ditentukan masalah pengaturan software (dari provider) atau firmware (misal card ethernetnya).
Ada beberapa faktor lain yg “baunya” sangat analisis dan teknis banget sehingga berkaitan dengan formula matematis yang lumayan rumit [?].
Cara Mengukur
Bagaimana cara mengukur kinerja jaringan ? Apakah cukup mendengar keluhan dari end-user (user awam) atau perlu dipertimbangkan (dianalisa) dengan cara-cara yang lebih masuk akal.
Kita tentu memilih patokan yg kedua.
Nantikan ulasannya…
(Kalo lagi males tapi nulis ya gini… gak karu2an, ma’af ya …) ![]()
Bidang ini (Sistem Pakar) sistemik metoda pengembangannya sebenarnya belum begitu mapan, tetapi manfaatnya telah cukup terbuktikan. Tidak begitu mapan maksudnya di sini adalah, seringkali dibutuhkan model yang spesifik untuk kasus yg spesifik. Masih sulit untuk membuat generalisasi pengembangan aplikasi sistem pakar bagi keragaman kasus yang lebih luas.
Contoh beberapa aplikasi sistem pakar yang terkenal (berhasil) :
· DENDRAL (1967), digunakan untuk menentukan struktur molekul yang didasarkan oleh spektogram
· MYCIN (1976), digunakan untuk mendiagnosa dan memberi rekomendasi terapi penyakit kelainan darah
· PROSPECTOR (1978), digunakan untuk eksplorasi mineral (telah memberikan lebih dari $100M keuntungan)
Aplikasi-aplikasi di atas tentu saja dibuat oleh sejumlah ahli melalui project tertentu yang pasti melibatkan pihak-pihak sesuai dengan domainnya (expert human) termasuk end-user.
Setiap contoh aplikasi di atas pun dikembangkan dengan sistemik yang berbeda. Silahkan googling untuk mencaritahu bagaimana beberapa aplikasi di atas dikembangkan.
—
Walaupun begitu ada beberapa ciri khas yang harus dimiliki oleh aplikasi Sistem Pakar dibandingkan aplikasi konvensional, apa itu ? Sudah tahu kan ?
—
Oh ya, bagi mahasiswa yg sebagian telah saya janjikan untuk dapat mendownload aplikasi kecil sistem pakar melalui site ini, silahkan download di sini : sistempakar.zip, Modul praktikum
Kemana arah Tool Pengembangan Software ?
Tulisan dari wacana ini sedang disiapkan sebagai bahan seminar.
Silahkan jika sebelumnya ada masukan. ![]()
Sejumlah mata kuliah yang pernah saya asuh di beberapa perguruan tinggi adalah : Algoritma dan Pemrograman, Struktur Data, Pemrograman Terstruktur, Visual Basic, Delphi, OOP (Java), Basis Data, Jaringan Komputer, Basis Data Terdistribusi, Artificial Intelligence, Sistem Pakar, Jaringan Saraf Tiruan, Bahasa C/C++, Pemrograman pascal, Logika Informatika, Interaksi Manusia dan Komputer, Sistem Keamanan Komputer, … Continue reading this post…
Kisah Nyata
(Ini tentang masa lalu)
Aku masih ingat saat perkenalan kita di kota Yogya itu.
Kota yang sedemikian teduh, telah menorehkan kenangan indah saat perkenalan aku dan dirimu. Indah… kuakui sekarang bahwa itu memang indah, walau dulu aku tak mengakuinya di depanmu. Ke ‘ego’ an ku menyatakan,”Jangan perlihatkan kesukaan itu, kau akan terendahkan akibat dari sebuah pengakuan”. Aku tak tau pasti dari mana mendapat ‘teori’ seperti itu. Ah.., betapa bodohnya aku waktu itu.
Begitulah… lalu aku hijrah ke kota Padang. Di kota inilah terjadi pembuktikan, bahwa betapa sebenarnya kita ’seakan’ tak akan terpisahkan… Ah… dELp..hI..
Selanjutnya, dari kesadaran betapa Jakarta membutuhkan aku ( bleggh
), maka kuturutilah untuk pindah (lagi) mengabdi di kota itu. Sampai akhirnya…, oh… ternyata Jakarta lah yang menjauhkan aku dan dirimu…
Sampai kini, kita semakin menjauh. tapi maafkan… karena aku ternyata (tetap) gagal melupakanmu.
Selamat tinggal ‘dunia’ telanjang
Melalui “penekanan” KONSEP jaringan private dan publik
Pengantar Pedagogis
Metode penyampaian materi ajar bisa bermacam-macam dan yang bermacam-macam itu bisa di ranking sehingga menjadi berlapis-lapis. Untuk satu materi ajar saja bisa jadi kita menemukan beberapa cara penyampaian yang berbeda dalam hal : urutan apa-apa yang akan dijelaskan lebih dulu, penekanan pokok bahasannya, model komunikasinya dan seterusnya.
Kalo saya bisa jadi menyiapkan beberapa jurus untuk menyampaikan materi ajar tertentu. Jurus-jurus tersebut ditemu-kembangkan gara-gara sering ‘banget’ menjelaskan materi itu untuk beberapa kelas paralel misalnya, sehingga kadang-kadang bahannya jadi luar kepala (di luar kepala semua ?
). Tapi bukan hafalan bahan materi ajar itu yang penting di sini, tetapi bagaimana (strategi) cara kita menyampaikannya ke sejumlah ‘kepala’ pembelajar (mahasiswa) sehingga lebih mengena bagi mereka untuk cepat memahaminya. Ini ilmu pedagogis.
Lapisan strategi itu bisa ada beberapa untuk suatu materi. Misalnya materi : “Perancangan IP address ini”, bisa ada 3 lapis strategi tentang bagaimana menyampaikannya. Pemilihan strategi yang digunakan tentu tergantung penilaian kita tentang audience yang akan mendengarkan. Ini contoh strategi lapisan ke-2 dalam menjelaskan masalah penentuan (perancangan) IP Address ke jaringan komputer. Jika mutu audience - nya cukup parah (susah nyambung) gunakan strategi lapisan pertama, tetapi jika mutunya lumayan bagus (cepat nyambung) gunakan strategi lapisan ke 3.
Begitulah kalo ngajarnya ke mahasiswa swasta, kebutuhan adaptasinya tinggi. Di situlah seninya…
Belajar dari meniru prilaku intel
(Edisi Pemula)
Alkisah :
… Tiba-tiba si mahasiswa menyela,”Kalo begitu mereka ngibuli kita dong pak, beli 8 dapat 4, yang dibeli 8 tapi yang kepake cuma 4. Ada apa sih sebenarnya, kok bapaknya diam aja. Inikan namanya penipuan, protes dong, katanya kita kan harus jadi aktivis moral. Ok, kalo begitu kedok dari penipuan ‘massal’ ini akan kami bongkar sendiri. Jangan-jangan bapak terlibat dalam perkolusian besar..”. Ha…?!!
—
Kronologis
Sebelum si para mahasiswa melakukan ‘gerakan’ pembongkaran ‘kedok’, saya harus menjelaskan kronologisnya pada rekan-rekan blogger sekalian. Anggap aja ini konfrensi pers yang saya lakukan untuk mengklarifikasikan apa yang terjadi sebenarnya, bahwa ‘gosip’ aja kalo saya mereka tuduh terlibat diper-kolusi-an (kayak selebritis aja ya klarifikasi segala ? )
Lagi ‘jenuh’ nih, jadi nemu ide nulisnya ginian ….
Bagimana ya ?
Setahu saya tidak ada cara2 yg disepakati, beberapa provider lebih sering memberitahu suatu cara [tentu] sesuai dengan kepentingannya. Namanya juga bisnis..
Tapi saya punya corat-coret untuk berbagi tentang ini. Yah, hanya sekedar corat-coret,
dan saya [kebetulan] bukan (belum kali ya) seorang business man. Percaya sajalah… !!!
—
1. Personal
Jika untuk pribadi (sendiri = 1 diri) maka jawaban yg paling praktis adalah tergantung isi kantong yg sudi anda sisihkan untuk kebutuhan ini. Lagi pula kalo untuk pribadi sepertinya pertimbangannya bukan berapa besar bandwidth yg dibutuhkan, tetapi lebih cendrung kepada sesering apa anda konek ke internet ?
Jika jarang2 konek (maksudnya sekali sekali), pake aja model dial up seperti telkomnet@instan. Tapi kalo tnyata mobilitas anda tinggi tentu telkomnet@instan gak cocok lagi, anda butuh HaPe ato PeDeEe ato LeptoP aja sekalian yg koneksi ke internetnya bisa menggunakan jalur gprs ato jalur 3g yg sekarang banyak ditawarkan. Terserah mau berbasis time atau space cara bayarnya. Dan kalo mobilitas anda ternyata lebih tinggi lagi, dimana HaPe, PeDeEe dan LeptoP bukan pemecahannya, maka saran saya, anda pake aja wArNEt. Kalo ini tidak juga pass untuk anda, itu artinya anda belum butuh internet. Tapi oleh karena anda sempat2nya mbaca postingan ini, saya gak percaya kalo anda gak butuh internet untuk selanjutnya.
Terus berapa bandwidth yang dibutuhkan ? Yah, kalo mau bicara bandwidth juga, barangkali untuk kebutuhan pribadi sebenarnya dapet 10kbps aja [menurut saya] sudah bagus (nyaman), asalkan stabil. Perhatikan kriterianya, asalkan stabil. Sure lho…
—
2. Corporate
Tapi kalo untuk kebutuhan corporate (akses rame2) masalahnya lain lagi. Untuk kasus ini dibutuhkan pertimbangan bahkan perhitungan yang [semestinya] matang dalam menentukan besar bandwidth yang akan disewa (leased). Jika ke-gede-an corporate (perusahaan, kampus, etc) anda akan rugi alias kedodoran, sebaliknya jika kekecilan maka sebagai admin siap2lah mendapat sumpah serapah dari pengguna (user) di corporate anda (pengalaman pribadi neh.. )
—
Apa parameter yg dibutuhkan dalam menentukan besar bandwidth yg akan disewa ?
Parameter tersebut [menurut saya aja ya, Continue reading this post…
—
The Content
Tulisan ini demi melanjutkan (baca:melengkapi) postingan atau lebih tepatnya curhat masalah bandwidth di negeri ini yg imbasnya juga ternyata mengena ke sektor2 lokal dimana kita berada (corporate) dan bahkan ke sektor diri pribadi (pengguna personal). Tetapi benarkah ini masalah bandwidth semata?
Apa sebenarnya makhluk yg bernama bandwidth tersebut ? Di dunia analog (komunikasi analog, seperti halnya radio dan televisi saat ini) bandwidth dikenal sebagai : range frekuensi (dari min ke maks) yang digunakan oleh sinyal pembawa (carrier) informasi, satuanya hz (heartz). Tetapi di dunia digital (komunikasi digital, seperti halnya komputer dan internet) defenisinya tidak sama, dalam hal ini bandwidth adalah : jumlah bit yang dapat dikirimkan per satuan waktu. Di dunia bisnis IT ada lagi istilah bandwidth volume, yg didefenisikan sebagai ukuran besar data (space) maksimal yg boleh ditransfer oleh pelanggan melalui koneksi tersebut. Misalnya jika provider menentukan spec 1 GByte/bulan, maka ini artinya maksimal data yg dapat anda transfer melalui koneksi tersebut adalah 1 Giga Byte. Ini tentu berbeda dengan defenisi bandwidth yang dimaksud pada tulisan ini.
Berdasarkan defenisi pertama, maka jika bandwidth internet anda 384kbps artinya dalam satu detik dapat dikirimkan data sebanyak 384 kilo bit (kb). Jika anda memaksa untuk menggunakan satuan Byte (satuan yg lebih kita akrabi) maka bagi aja angka tersebut dengan 8 (sebab 1 Byte= 8 bit) sehingga menjadi 384kb/8= 48 kByte. Dan sekarang kita dapat berkata bahwa dengan bandwidth 384kbps tersebut dalam waktu 1 detik dapat terkirim data sebesar 48 kB, yg berarti juga untuk data sekitar 500 kB (genapan dari 480 kb) maka waktunya sekitar 10 detik, dan jika data tersebut 1MB (2 x 500kB) maka waktunya menjadi 20 detik (2 x 10). Hitungan ini cuma kira2 saja dan tentu saja masih sangat kasar. Kenapa kasar ? Karena ternyata 1 kilo (K) dalam IT tidak benar-benar 1000 (seribu), dan 1 mega (M) tidak benar2 1000.000 (sejuta). Tepatnya di dunia IT 1 kilo itu adalah 1024 dan 1 mega adalah = 1048576. Dalam kaitan dengan masalah transfer data bit di atas, ternyata selama proses transfer terjadi, terlibat juga (ikut ditransfer) bit-bit lain (misalnya bit pengontrol transmisi), sehingga bit yg ditransfer melebihi dari data yg sesungguhnya. Belum lagi masalah propogasi (tergantung media) dan delay antrian (masalah kelincahan device perantara) yang turut juga menentukan waktu transfer (latency) ini.
Ah… ini kok jadi terlampau teknis …
—
Baiklah, kembali ke pertanyaan awal di atas,“Kenapa koneksi internet menjadi lambat ?“.
—
Ini pertanyaan standar yg sering diajukan para user ke provider, ke admin, atau ke petugas IT lain yg sejenis. Ini bisa saja terjadi karena user merasa ada ketidak-wajaran akibat dari defenisi kewajaran berinternet yang dia pahami, dan/atau akibat rangsangan nafsu yg kelewat tinggi dalam hal ber-internet-ria-an tersebut.
Napa ini terjadi ya ? Maksudnya tentu napa lemot, bukan masalah nafsu tinggi itu lho.
Kalo masalah nafsu tinggi tersebut, itu mah masalah lain. Bukankah di bulan ramadhan kmaren kita telah lolos di pelatihannya ?
Untuk memahami fenomena ini tentu kita sebaiknya mencari informasi yg se-objektif-nya, karena kalo tidak, akan ada-ada saja yang mengeruk di air yg keruh sebagai celah pemanfaatan bahkan semacam pemaksaan agar terjadi deal bisnis [baru]. ![]()
Baik,
saya menawarkan corat-coret berikut untuk mengulas permasalahannya dan mengajak anda berdiskusi (menambah informasi) melalui pemaparan sejumlah alasan yg pernah saya ditemui. Mungkin saja lambatnya (ke-lemotan) koneksi internet anda akibat dari beberapa hal berikut :
1. Karena besar bandwidth yang disewa dengan jumlah terminal yang menggunakannya berada di bawah standar kenyamanan. Misal bandwidth yang anda sewa 256kbps dan terminal yang lagi konek ke internet 50, maka rata-rata (jika memang rata) akan mendapat 256/50 = 5.12 kbps. Ini berada dalam level ketidaknyamanan berinternet (<10kbps), jika sekedar dikaitkan dengan bandwidth saja.
Saran cara mengatasinya : tentu dengan menaikkan besar bandwidth yg disewa. Sejumlah provider untuk kalangan corporate menawarkan bandwidth mulai dari 64kbps, 128kbps, 256kbps, 512kbps, 1Mbps, dan seterusnya. Tawaran besaran bandwidth ini juga diiringi dengan tawaran rasio-nya seperti : 1:1 (clear), 1:4, 1:8, 1:16 dan seterusnya. Akhirnya anda juga akan ditawari dengan sejumlah cara (media) koneksi jika memang alternatif lain dimiliki oleh provider tersebut, katakanlah apakah melalui : wireless, kabel atau fo.
2. Karena sejumlah terminal/user menggunakan bandwidth melebihi jatah Continue reading this post…
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
| 29 | 30 | 31 | ||||